Ramadhan 2025:
Refleksi Diri & Pengembangan Soft Skill
Bersama QADCenter
Oleh: Kristiana Dewayani, Psikolog – QADCenter
Bulan Ramadhan adalah momen penuh makna untuk memperkuat kembali hubungan dengan diri
sendiri, sesama, dan tujuan hidup kita. Di QADCenter, kami merancang sesi spesial Ramadhan
Berbagi 2025 sebagai ruang reflektif yang menggabungkan pendekatan psikologi terapan dengan
pengalaman belajar yang sederhana namun berdampak.
Sesi ini bertujuan untuk membantu peserta menemukan potensi diri, memilih soft skill yang
ingin dikembangkan, dan merancang rencana pengembangan yang realistis dan bermakna.
Menemukan Arah Diri Melalui Refleksi
Kegiatan ini dimulai dengan self-discovery, di mana peserta diajak menjawab pertanyaanpertanyaan reflektif seperti:
- Soft skill apa yang paling saya butuhkan saat ini?
- Siapa yang akan mendapat manfaat dari pengembangan diri saya?
- Bagaimana saya tahu bahwa saya mengalami kemajuan?
Pendekatan ini selaras dengan teori Self-Directed Learning (Garrison, 1997) yang menekankan
pentingnya kesadaran, komitmen, dan tanggung jawab individu terhadap proses belajar dan
bertumbuh.
Soft Skill sebagai Bekal Adaptasi Masa Depan
Peserta juga mengevaluasi hasil asesmen diri terhadap sejumlah kompetensi kunci seperti:
- Public speaking dan percaya diri di depan umum
- Manajemen waktu dan kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan
- Ideasi kreatif dan kenyamanan dalam situasi ambigu
- Koneksi profesional dan pemeliharaan jejaring sosial
Rencana Aksi: Dari Niat ke Langkah Nyata
Dalam sesi Ramadhan 2025 ini, setiap peserta menyusun Rencana A dan Rencana B sebagai
bentuk konkretisasi niat. Mereka diminta menetapkan satu langkah kecil yang bisa dilakukan
dalam waktu dekat—seperti mendaftar workshop, meminta feedback, atau mulai jurnal refleksi.
Ini sejalan dengan prinsip implementation intention (Gollwitzer, 1999) yang terbukti
memperkuat komitmen terhadap tujuan karena individu lebih siap secara mental menghadapi
hambatan.
Penutup: Niat yang Diikat Aksi
Sesi ini ditutup dengan pertanyaan reflektif yang menjadi jangkar psikologis:
“Apa satu hal yang akan saya ubah minggu ini untuk menjadi versi diri saya yang lebih selaras
dengan nilai-nilai saya?”
Dengan menjembatani kesadaran dan tindakan, sesi ini memberi ruang bagi peserta untuk
menumbuhkan value-based action—tindakan yang selaras dengan makna hidup dan aspirasi
mereka (Hayes, Strosahl, & Wilson, 1999).
Referensi:
- Garrison, D. R. (1997). Self-directed learning: Toward a comprehensive model. Adult
Education Quarterly, 48(1), 18–33. https://doi.org/10.1177/074171369704800103 - Savickas, M. L., & Porfeli, E. J. (2012). Career Adapt-Abilities Scale: Construction,
reliability, and measurement equivalence across 13 countries. Journal of Vocational
Behavior, 80(3), 661–673. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2012.01.011 - Gollwitzer, P. M. (1999). Implementation intentions: Strong effects of simple plans.
American Psychologist, 54(7), 493–503. https://doi.org/10.1037/0003-
066X.54.7.493 - Hayes, S. C., Strosahl, K. D., & Wilson, K. G. (1999). Acceptance and Commitment
Therapy: An Experiential Approach to Behavior Change. Guilford Press.
– QADCenter – Applied Psychology for Human Development™
– Empowering growth, one reflection at a time.
